Senin, 09 April 2012

Teori Dasar Kalibrasi


A.  Pengertian Kalibrsi
Kalibrasi adalah pemeriksaan suatu instrumen terhadap standar yang diketahui dan selanjutnya untuk mengurangi kesalahan dalam ketelitiannya.
Tujuan pengkalibrasian dari suatu alat ukur ialah untuk memungkinkan kita memeriksa instrument terhadap standar yang diketahui dan selanjutnya mengurangi kesalahan dalam ketelitiannya.

B.  Aplikasi Kalibrasi
1.      Aplikasi kalibrasi di dunia kesehatan
Aplikasi di dunia kesehatan. Kalibrasi alat kesehatan bertujuan untuk menjaga kondisi alat kesehatan agar tetap sesuai dengan standar besaran pada spesifikasinya. Dengan pelaksanaan kegiatan kalibrasi maka akurasi, ketelitian dan keamanan alat kesehatan dapat dijamin sesuai dengan besaran-besaran yang tertera / diabadikan pada alat kesehatan tersangkitan. Standar besaran yang dapat dibaca pada alat kesehatan mungkin berupa pemilih (selector) atau metering, merupakan nilai yang diabadikan pada alat kesehatan bersangkutan. Sehingga pelaksanaan kalibrasi dapat dilakukan dengan membandingkan nilai terukur dengan nilai yang diabadikan pada alat kesehatan, misalnya : Tegangan (voltage), Arus listrik (electric current), Waktu, Energi dan Suhu.
Kalibrasi alat kesehatan dilaksanakan dengan kegiatan sebagai berikut :
- Pengukuran kondisi lingkungan
- Pemeriksaan kondisi fisik dan hngsi komponen alat.
- Pengukuran keselarnatan kerja.
- Pengukuran kinerja sebelum dan setelah penyetelan atau pemberian faktor kalibrasi sehingga nilai terukur sesuai dengan nilai yang diabadikan pada bahan ukur.
Berkaitan dengan kegiatan pengujian atau kalibrasi, secara teknis peralatan kesehatan dapat dibedakan ke dalam alat kesehatan yang memiliki acuan besaran dan alat kesehatan yang tidak memiliki acuan besaran. Acuan besaran dapat dipergunakan sebagai pembanding terhadap nilai terukur. Terhadap alat kesehatan yang memiliki acuan besaran dilakukan kalibrasi, contoh: ECG, Cardiotocograph,  Electroencephalograpl~X -Ray. Sedangkan terhadap alat kesehatan yang tidak memiliki acuan besaran dilakukan pengujian, karena tidak memiliki nilai pembanding, contoh: dental unit, ESU, alat hisap medik. Permenkes No. 363 PerfiVi 1998 telah menetapkan sebanyak 125 alat kesehatan wajib diuji atau kalibrasi, seperti yang terdapat pada dafiar alat kesehatan wajib uji atau kalibrasi pada lampiran 3.
Alat ukur yang dipergunakan dalam pengujian dan kalibrasi alat kesehatan adalah alat ukur besaran dasar maupun alat ukur besaran turunan. Kedua jenis alat ukur tersebut dikalibrasi dengan melakukan metode pengukuran langsung atau metode pengubiran paralel.
·         Metode Pengukuran Langsung.
Alat ukur yang akan dikalibrasi dipergunakan untuk mengukur suatu bahan ukur yang nilai sebenarnya telah diketahui. Kondisi atau ketelitian serta kecermatan alat ukur yang dikalibrasi, dapat diketahui dengan membandingkan nilai sebenarnya dan bahan ukur dengan nilai terbaca pada alat ukur. Jika terdapat perbedaan antara nilai sebenarnya dari bahan ukur dengan nilai terukur, maka dilakukan penyetelan pada alat ukur bila memungkinkan. Setelah penyetelan, dilakukan pengukuran ulang sekurang-kurangnya 3 (tiga) kali pada masing-masing skalaparameter, sehingga diperoleh kondisi stabil pengukuran.
·         Metode Pengukuran Paralel.
Alat ukur yang telah diketahui ketelitian serta kecermatannya (terkalibrasi) disebut alat ukur reference, dipergunakan paralel (bersamaan) dengan alat ukur yang akan dikalibrasi untuk mengukur suatu bahan ukur. Kondisi alat ukur yang dikalibrasi dapat diketahui dengan membandingkan hasil pengukurannya dengan alat ukur reference. Jika terdapat perbedaan antara alat ukur reference dengan nilai terbaca pada alat ukur yang dikalibrasi, maka dilakukan penyetelan pada alat ukur yang dikalibrasi bila memungkinkan. Setelah penyetelan dilakukan pengukuran ulang sekurang-kurang nya 3 (tiga) kali pada masing-masing skala / parameter, sehingga diperoleh kondisi stabil pengukuran.
Kalibrasi Besaran Standar
Kalibrasi besaran standar ' hanya dapat dilakukan dengan metode pengukuran langsung. Nilai sebenarnya dari besaran standar, diukur secara langsung menggunakan alat ukur yang telah diketahui ketelitian serta kecermatannya (terkalibrasi). Jika nilai terukur berbeda dengan nilai yang diabadikan pada besaran standar, dilakukan penyetelan jika memungkinkan. Setelah penyetelan dilakukan pengakuran ulang sekurang-kurangnya 3 (tiga) kali pada masing-masing skaldparameter, sehingga diperoleh kondisi stabil pengukuran.


2.      Kalibrasi Alat Semprot
Suatu percobaan untuk menghitung volume semprot yang dibutuhkan untuk menyemprot suatu areal tertentu.
o   Mengukur lebar semprotan misal : a meter
o   Mengukur kecepatan jalan Buat awal jalan lalu laksanakan
o   Penyemprotan selama ¹menit lalu ukur brp jaraknya, misal : b meter.
o   Ukur kecepatan aliran
o   Isi knap sack dengan air bersih, pompa sampai 8x agar tekanan menjadi ¹atm. Semprotkan ¹menit dan air ditampung. Misal : c ltr/mnt
o   Perhitungan:
Luas areal yang disemprot/menit : kecepatan jalan x lebar semprot : bxc m2/mnt.

3.      Kalibrasi dalam  pH meter
Instrumen pHmeter adalah peralatan laboratorium yang digunakan untuk menentukan pH atau tingkat keasaman dari suatu sistem larutan. (Beran, 1996). Tingkat keasaman dari suatu zat, ditentukan berdasarkan keberadaan jumlah ion hidrogen dalam larutan.
Penentuan kalibrasinya dapat dilakukan dengan cara:
a.       Teknik satu titik, yaitu pada sekitar pH yang akan diukur, yakni kalibrasi dengan buffer standar pH 4,01 untuk sistem asam, buffer standar pH 7,00 untuk sistem netral, dan buffer standar pH 10,01 untuk sistem basa.
b.      Teknik dua titik (diutamakan)Apabila sistem bersifat asam, maka digunakan 2 buffer standar berupa pH 4,01 dan 7,00 Apabila sistem bersifat basa, digunakan 2 buffer standar berupa pH 7,00 dan 10,01
c.       Teknik multi titik Kalibrasi dilakukan dengan menggunakan 3 buffer standar. Untuk sistem dengan pH < 2,00 atau > 12,00, sering terjadi ketidaknormalan elektroda, kelemahan ini dipengaruhi oleh jenis alat yang digunakan. Untuk pengukuran yang dilakukan dalam waktu yang lama, maka diperlukan proses kalibrasi secara periodik selang 1,5 – 2 jam. Hal ini untuk menjaga kestabilan dari alat pHmeter yang digunakan, sehingga tetap dapat diperoleh hasil pengukuran yang bagus. Untuk keperluan kalibrasi ini dapat menggunakan buffer pH yang ada di pasaran, skala yang biasa digunakan adalah:

pH = 4,01 merah; pH = 7,00 hijau; pH = 10,00 biru




























C.  Gambar MPAD, bagian dan fungsinya
MPAD berfungsi  untuk melakukan pengujian mesin pendingin dan pemanas, dimana alat ini terbuat dari bahan kayu (multiplex) yang dilapisi formika.
Alat-alat utama:

a.       Fan sentrifugal dengan motornya untuk mengisap udara.








b.      Heater
http://3.bp.blogspot.com/_M6FSxxUbVHk/TSXyabquEeI/AAAAAAAAANM/EWd9469b7B8/s320/heater.bmpuntuk memanaskan aliran udara yang masuk kedalam section


c.       Evaporator untuk menguapkan refrigerant
http://2.bp.blogspot.com/_M6FSxxUbVHk/TSXwfeXZyKI/AAAAAAAAAMk/r24P5Nzgmls/s320/kompr.bmp




d.      Saluran inlet dengan mulut konis dan kisi-kisi untuk menaikkan kecepatan.








e.       Kompresor untuk memberikan tekanan ke kondensor









f.       Pipa pitot dengan pemegangnya untuk menyalurkan tekanan ke manometer.











g.      Penutup lubang pengukur untuk menutup lubang pengukur.

h.      Manometer miring dengan pipa karet penghubung untuk mengukur tekanan













i.        Kondensor untuk melepaskan kalor dari fluida.
http://4.bp.blogspot.com/_M6FSxxUbVHk/TSXvnlICylI/AAAAAAAAAMU/t-PtdO-fZ58/s320/konden.bmp







                                              



D.    Cara Mengkalibrasi  Alat Ukur.
·         Manometer
Kalibrasi manometer
a.       Isi manometer, dengan air, sampai untuk menandai
b.      Hati-hati, dan menggunakan perlindungan tangan, memastikan bahwa tabung di stopper karet dapat bergerak bebas .
c.       Pasang manometer sesuai posisinya.
d.      Pada laju aliran yang benar 1L/min., Menaikkan tabung manometer sampai membentuk gelembung. Kemudian turunkan tabung sampai hanya berhenti mendidih dan menandai ketinggian tabung bawah pada tabung percobaan menggunakan texta air bukti atau tape.
e.        Selalu memastikan bahwa tingkat air pada tingkat yang benar untuk sistem yang Anda gunakan.

·         Higrometer

hygrometer
Sebuah sistem kalibrasi higrometer telah dirancang dan dibuat dalam rangka peningkatan kemampuan kalibrasi higrometer untuk menghasilkan sebuah sistem kalibrasi yang dapat memberikan kemampuan ukur terbaik di bawah 2,5%. Sistem yang dibangun memanfaatkan prinsip kerja divided flow atau aliran terbagi. Pengujian dilakukan terhadap sistem tersebut pada rentang kelembaban relative yang biasa dipakai untuk melakukan kalibrasi, yaitu dari 10% hingga 95%. Pengukuran ketidakseragaman test chamber telah dilakukan pada rentang kelembaban tersebut dengan menggunakan dua buah sensor. Hasil akhir pengujian menunjukkan sistem yang dibangun mampu memberikan kemampuan ukur terbaik masing-masing adalah 0,62% pada RH 10% dan 0,51% pada RH 60% dan 95%.
·         Thermokopel
Proses pengkalibrasian termokopel yaitu, setelah setting alat diatas selesai maka langkah awal adalah mengukur suhu air yang didalamnya diletakkan bagian persambungan (kopel) dari termokopel dengan termometer, setelah termometer menunjukkan suhu puncak air maka langkah selanjutnya adalah mengamati besarnya tegangan yang ditimbulkan termokopel pada voltmeter. Langkah berikutnya yaitu membandingkan suhu yang ditunjukkan oleh termometer dengan tegangan yang ditimbulkan termokopel, nilai tegangan itulah konversi suhu yang diukur. Jadi, nilai tegangan itu setara dengan suhu yang terukur oleh termometer, sehingga didapatkan nilai tegangan sekian = suhu sekian, dan proses kalibrasi telah selesai. Dan untuk menentukan suhu berikutnya maka suhu air diturunkan dan disetarakan dengan tegangan yang timbul, jadi akan didapatkan nilai tegangan dan nilai suhu pada setiap penurunan suhu air. Proses pengkalibrasian dilakukan seperti pada langkah awal yaitu, tegangan sekian setara suhu sekian. Hasil akhirnya kita mendapatkan alat ukur baru yaitu termokopel yang telah sesuai nilainya dengan termometer yang digunakan untuk mengkalibrasi. 
·         Anemometer
Proses Kalibrasi Anemometer
Proses kalibrasi anemometer dilakukan secara periodik agar perfomansi dan hasil pencatatan tetap stabil dan baik. Berikut urutan proses kalibrasi pada anemometer.
·       Untuk kalibrasi arah angin, metode berikut dapat menghasilkan akurasi ± 5 ° atau lebih baik jika dilakukan dengan hati-hati. Mulailah dengan menghubungkan alat ke rangkaian pengkondisi sinyal yang menunjukkan nilai arah angin. Ini mungkin merupakan indikator yang menampilkan nilai arah angin dalam derajat sudut atau hanya sebuah voltmeter pemantauan output. Tahan atau mount instrumen agar pusat baling-baling rotasi adalah di atas pusat selembar kertas yang memiliki 30 ° atau 45 crossmarkings °. Posisi theinstrument sehingga crossarm mounting berorientasi utara-selatan dengan baling-baling di sebelah utara dan anemometer di sebelah selatan. Dengan imbangan yang menunjuk langsung pada anemometer yang sinyal arah angin harus sesuai dengan 180 ° atau selatan jatuh tempo. Melihat dari atas, visual menyelaraskan baling-baling dengan masing-masing crossmarkings dan mengamati tampilan indikator. Hal ini harus sesuai dengan posisi baling-baling dalam waktu 5 °. Jika tidak, mungkin perlu untuk menyesuaikan posisi relatif dari rok baling-baling dan poros. Lihat langkah 3 di bagian PEMELIHARAAN bawah pengganti potensiometer.
·       Penting untuk dicatat bahwa sementara sensor mekanik berputar melalui 360 °, angin skala penuh arah sinyal dari pengkondisian sinyal terjadi pada 352 °. Misalnya, dalam sebuah sirkuit mana 0-1,00 VDC merupakan 0 ° sampai 360 °, output harus disesuaikan untuk 0,978 VDC ketika instrumen berada pada skala 352 ° penuh. (352 ° / 360 ° X 1,00 volt = 0,978 volt).
·       Angin kalibrasi kecepatan ditentukan oleh faktor roda cangkir berputar dan karakteristik output dari transduser. Kalibrasi formula menunjukkan cangkir rpm roda dan output frekuensi vs kecepatan angin termasuk di bawah ini.
·       Kalibrasi Rumus untuk Model 03102 Sentry Anemometer Wind
o         WIND SPEED vs CUP WHEEL RPM
§     m/s = (0.01250 x rpm) + 0.2
§     knots = (0.02427 x rpm) + 0.4
§     mph = (0.02795 x rpm) + 0.4
§     km/hr = (0.04499 x rpm) + 0.7
o         WIND SPEED vs OUTPUT FREQUENCY - Hz
§     m/s = (0.7500 x Hz) + 0.2
§     knots = (1.4562 x Hz) + 0.4
§     mph = (1.6770 x Hz) + 0.4
§     km/hr = (2.6994 x Hz) + 0.7

·         Phmeter
Sebelum digunakan untuk mengukur pH, pH meter yang kita gunakan harus dikalibrasi terlebih dahulu. Prosedur umumnya adalah masuk ke menu kalibrasi yang disediakan oleh pH meter lalu ukurlah pH dari dapar standar yang pH nya telah diketahui. Biasanya dapar standar ini disediakan oleh perusahaan pembuat pH meter.
http://2.bp.blogspot.com/_eX5d-7I4JH4/TKQL4xr0F_I/AAAAAAAAAMw/xVWsRQ2Ogi8/s400/pH-meter-mettlertoledo.jpg
Saat saya ujian bulan lalu, kebetulan disediakan pH meter baru, jadi tentunya belum familiar dengan alat ini. Sebenarnya saya memang kurang familiar dengan pH meter yang lama pun karena jarang menggunakan alat tersebut. Pada pH meter yang lama dilakukan kalibrasi menggunakan 2 dapar standar yaitu pH 4,00 dan 7,00. Pada pH meter yang baru ini digunakan 3 (TIGA) dapar standar yaitu pH 4,01; 7,00; 9,21. Saat akan mengkalibrasi alat saat persiapan ujian di sana telah disediakan selembar SOP (PROTAP) yang menuliskan bahwa alat dikalibrasi dengan urutan dapar sebagai berikut: 7,00; 4,01; 9,21, lalu dilihat slope (kemiringan) dari kurva kalibrasi yang dibuat diharapkan 95-.....% .
·         Torsimeter


Cara Kalibrasi ;
Dengan cara memutar tuas lengan gaya untuk menyeimbangkannya di mana lengan gaya  terhubung dengan torsimeter sehingga hasil yang akan di peroleh akan lebih akurat. kalibrasi di hentikan apabila posisi gelembung yang terdapat pada waterpass sudah berada di tengah-tengah  di mana waterpass tersebut berada di atas lengan gaya.


·         Neraca digital
Kalibrasi ;
a.    Pengontrolan Timbangan/Neraca
Timbangan/Neraca dikontrol dengan menggunakan anak timbangan yang sudah terpasang atau dengan dua anak timbangan eksternal, misal 10 gr dan 100 gr. Timbangan/Neraca elektronik, harus menunggu 30 menit untuk mengatur temperatur. Jika menggunakan timbangan yang sangat sensitif, hanya dapat bekerja pada batas temperatur yang ditetapkan. Timbangan harus terhindar dari gerakan (angin) sebelum menimbang angka “nol” harus dicek dan jika perlu lakukan koreksi. Penyimpangan berat dicatat pada lembar/kartu kontrol, dimana pada lembar tersebut tercantum pula berapa kali timbangan harus dicek. Jika timbangan tidak dapat digunakan sama sekali maka timbangan harus diperbaiki oleh suatu agen (supplier).
b.    Kebersihan timbangan
Kebersihan timbangan harus dicek setiap kali selesai digunakan, bagian dan menimbang harus dibersihkan dengan menggunakan sikat, kain halus atau kertas (tissue) dan membersihkan timbangan secara keseluruhan timbangan harus dimatikan, kemudian piringan (pan) timbangan dapat diangkat dan seluruh timbangan dapat dibersihkan dengan menggunakan pembersih seperti deterjen yang lunak, campurkan air dan etanol/alkohol. Sesudah dibersihkan timbangan dihidupkan dan setelah dipanaskan, cek kembali dengan menggunakan anak timbangan.














E.  Pengertian Refigran.
Refrigerant merupakan fluida yang digunakan untuk mendinginkan lingkungan bersuhu rendah dan membuang panas ke lingkungan yang bersuhu tinggi. Salah satu refrigeran paling terkenal saat ini adalah CFC alias FREON (R-11, R-12, R-21, R-22 dan R-502)
·         Freon
CFC (Chloro-Fluoro-Carbon) alias R22 memegang peranan penting dalam sistem refrigerasi, sejak ditemukan pada tahun 1930. Hal ini dikarenakan CFC memiliki properti fisika dan termal yang baik sebagai refrigeran, stabil, tidak mudah terbakar, tidak beracun dan kompatibel terhadap sebagian besar bahan komponen dalam sistem refrigerasi. Akan tetapi setelah masyarakat mengetahui hipotesa bahwa CFC termasuk Ozone Depleting Substance (ODS), yaitu zat yang dapat menyebabkan kerusakan ozon, masyarakat mulai mencoba melakukan penghentian pemakaian ODS dan dituangkan ke dalam beberapa konvensi, seperti Vienna Convention pada bulan Maret 1985, Montreal Protocol pada bulan September 1987 dan beberapa amandemen lainnya. Pemerintah Indonesia telah meratifikasinya melalui Keppres RI No. 23 tahun 1992
·         R134a
sebagai salah satu alternatif memiliki beberapa properti yang baik, tidak beracun, tidak mudah terbakar dan relatif stabil. R-134a juga memiliki kelemahan di antaranya, tidak bisa dijadikan pengganti R-12 secara langsung tanpa melakukan modifikasi sistem refrigerasi (drop in subtitute), relatif mahal, dan masih memiliki potensi sebagai zat yang dapat menyebabkan efek pemanasan global karena memiliki Global Warming Potential (GWP) yang signifikan. Selain itu R-134a sangat bergantung kepada pelumas sintetik yang sering menyebabkan masalah dengan sifatnya yang higroskopis.

·         Refrigeran hidrokarbon.
Sebenarnya hidrokarbon sebagai refrigeran sudah dikenal masyarakat sejak 1920 di awal teknologi refrigerasi bersama fluida kerja natural lainnya seperti ammonia, dan karbon dioksida. Hidrokarbon yang sering dipakai sebagai refrigeran adalah propana (R-290), isobutana (R-600a), n-butana (R-600). Campuran yang sering digunakan di antaranya R-290/600a, R-290/600 dan R-290/R-600/R-600a.
Hidrokarbon memiliki beberapa kelebihan seperti ramah lingkungan, yang ditunjukkan dengan nilai Ozon Depleting Potential (ODP) nol, dan GWP yang dapat diabaikan, properti termofisika dan karakteristik perpindahan kalor yang baik, kerapatan fasa uap yang rendah, dan kelarutan yang baik dengan pelumas mineral.
Pemakaian hidrokarbon dengan isu hemat energi dan ramah lingkungan masih belum bisa diterima secara luas seperti pemakaian freon sebagai refrigeran. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran masyarakat akan sifat hidrokarbon yang bisa terbakar. Sifat ini sebenarnya tidak membahayakan jika digunakan sesuai prosedur yang benar. Untuk memahami bekerja dengan prosedur yang benar, mau tidak mau diperlukan pengetahuan tentang karakteristik hidrokarbon. Seperti pepatah mengatakan, “tak kenal maka tak sayang”, kita tidak akan mau menggunakan hidrokarbon jika tidak mengenalnya.













F.   Persyaratan Refrigeran

Persyaratan refrigeran (zat pendingin) untuk unit refrigerasi adalah sebagai berikut:
1.      Tekanan penguapannya harus cukup tinggi. Sebaiknya refrigeran memiliki temperatur penguapan pada tekanan yang lebih tinggi, sehingga dapat dihindari kemungkinan terjadinya vakum pada evaporator, dan turunnya efisiensi volumetrik karena naiknya perbandingan kompresi.
2.      Tekanan pengembunan yang tidak terlampau tinggi. Apabila tekanan pengembunannya rendah, maka perbandingan kompresinya menjadi lebih rendah sehingga penurunan prestasi kompresor dapat dihindarkan. Selain itu, dengan tekanan kerja yang lebih rendah, mesin dapat bekerja lebih aman karena kemungkinan terjadinya kebocoran, kerusakan, ledakan menjadi lebih kecil.
3.      Kalor laten penguapan harus tinggi. Refrigeran yang memiliki kalor laten penguapan yang tinggi lebih menguntungkan karena untuk kapasitas refrigerasi yang sam, jumlah refrigeran yang bersirkulasi menjadi lebih kecil.
4.      Volume spsifik (terutama dalam fasa gas) yang cukup kecil. Refrigeran dengan kalor laten penguapan yang besar dan volume spesifik gas yang kecil akan memungkinkan penggunaan kompresor dengan volume torak yang lebih kecil.
5.      Koefisien prestasi harus tinggi. Dari segi karakteristik termodinamika dari refrigeran, koefisien prestasi merupakan parameter yang terpenting untuk menekan biaya operasi
6.      Konduktifitas termal yang tinggi . konduktivitas termal sangat penting untuk menentukan karakteristik perpindahan kalor.
7.      Viskositas yang rendah dalam fasa cair maupun fasa gas. Dengan turunnya tahanan aliran refrigeran dalam pipa, kerugian tekanan akan berkurang.
8.      Konstanta dielektrika dari refrigeran yang kecil, tahanan listrik yang besar, serta tidak menyebabkan korosi pada material isolator listrik (utamanya untuk kompresor hermatik)
9.      Refrigeran hendaknya stabil dan tidak bereaksi dengan material yang dipakai, sehingga tidak menyebabkan korosi
10.  Refrigeran tidak boleh beracun dan berbau merangsang
11.  Refrigeran tidak boleh mudah terbakar dan meledak
12.  Refrigeran harus mudah dideteksi, jika terjadi kebocoran
13.  Harganya tidak mahal dan mudah diperoleh
14.  Ramah lingkungan.

























G.    Jenis-jenis Perpindahan  Panas.
a.    Konduksi adalah jenis perpindahan panas dimana panas berpindah diantara medium – medium yang berlainan yang bersinggungan secara langsung tanpa adanya perpindahan molekul yang cukup besar, misal: tangan yang menyentuh ketel panas.
Rumus :
      Dimana :
                        A         = luas penampang (m2 )
                               = beda suhu (k)
                        L          = panjang medium (m)
                        K         = daya hantar (konduktifitas) termal (W/mK)
b.    Konveksi adalah proses transport energy dengan kerja gabungan dari konduksi panas, penyimpangan energy dan gerakan mencampur, yang sangat penting sebagai mekanisme perpindahan energy antara permukaan benda padat dan cairan atau gas, misal: pada perpindahan panas uap di boiler ke pipa – pipa pendingin.
Rumus :
q =hc A (ts-tf)
Dimana :
                                    hc        = koefisien konveksi (W/m2-K)
                                    A         = Luas penampang (m2)
                                    ts          = suhu permukaan (0C)
                                    tf          = suhu fluida (0C)
c.    Radiasi adalah proses perpindahan panas dari suatu benda ke benda lain yang terpisah dalam ruang, bahkan bila terdapat ruang hampa diantara benda – benda tersebut, missal: transfer panas matahari ke bumi.
Rumus :
q1-2 =σAFFA(T14-T24)
Dimana :
                                    σ          =Tetapan sefan boltzman (5,669 x 10-8 W/m2-K4)
                                    T1         = temperatur tertinggi sebelum radiasi (0C)
                                    T2         = temperatur terendah (0C)
                                    F        = faktor emisifitas
                                    FA           = factor bentuk
                                    A         = Luas pemampang (m2)




















H.    Laju Aliran Perpindahan Panas.



1 komentar:

Tolong tuliskan pendapatnya ya? Terima kasih